Selasa, 29 Oktober 2013

GEDUNG TUA DI PONDOK CINA

Rumah tua itu tak lagi memacarkan aura kumuh dan angker. Cat warna putih yang melekat pada dinding tua tampak serasi dengan Margo City. Bahkan, kemewahan rumah tua warisan tuan tanah asal Cina, Tio Tiong Ko, tahun 1690 menambah eksotis pusat belanja termegah di Depok itu. 

Asal-usul
Rumah tua itu, bagi sejarawan Onghokham dalam buku Anti-Cina-Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina, merupakan cikal bakal daerah Pondok Cina. Sejumlah rumah berbentuk pondokan menjadi tempat berkumpul para pedagang asal Tionghoa, yang bermitra dengan saudagar Belanda tergabung dalam VOC (Verenigde Oost Companiest).
Cornelis Chasteleine, pejabat VOC, bahkan membeli lahan kepada Tio Tiong Ko seluas 1.244 hektar pada 1691 di Depok (Mampang dan Karang anyar). "Nama Pondok Cina itu sudah ada sejak awal, dalam peta abad ke-17," terang Tri Wahyuning Irsyam, kandidat doktor sejarah dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, yang meneliti sejarah perkembangan kota Depok.

Hal senada diungkap sejarawan Adolf Heuken. Katanya, nama Pondok Tjina dipakai untuk menyebut rumah tua Pondok Cina yang sekarang terletak di halaman Margo City. "Sebuah rumah sudah disebut dengan nama Pondok Tjina pada tahun 1690, waktu dimiliki oleh seorang Tionghoa," tulis Heuken dalam Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta.

Seorang saudagar Belanda yang kelak memimpin VOC, Abraham Van Rieebek, bahkan mencatat nama Pondok Tjina juga sudah tertera saat ia melakukan perjalanan untuk melihat potensi wilayah selatan pada 1704. "Perjalanannya dimulai dari Batavia-Tjililitan-Tandjung Timoer-Seringsing-Pondok Tjina-Pondok Putjung-Bodjong Manggis-Kedung Halang-Parung Angsana (sekarang menjadi Tanah Baru)," demikian dikutip Rian Timadar dalam skripsi di Universitas Indonesia, Persebaran Data Arkeologi di Permukiman Depok Abad 17-19.

Keberadaan warga Tionghoa di Pondok Cina, yang berubah nama dari Kampung Bojong pada 1918, sangat strategis. Apalagi Cornelis Chasteleine (Amsterdam, 10 Agustus 1657–28 Juni 1714, Depok) dengan 150 budak belian dari sejumlah suku di Indonesia (belakangan diberi 12 marga: Bacas, Jonathan, Samuel, Loen, Soedira, Laurens, Isakh, Jacob, Tholens, Joseph, Leander, dan Zadokh), membutuhkan sirkulasi kebutuhan bahan pangan hari-hari, yang tersedia di Pasar Cimanggis, Pasar Cisalak, dan Pasar Lama (kini Jalan Dewi Sartika, Pancoranmas).

Terpusatnya warga Tionghoa di Pondok Cina, seperti diungkap Lilie Suratminto dalam "Depok dari Masa Prakolonial ke Masa Kolonial", lantaran testamennya Cornelis Chasteleine. Di antaranya warga Cina hanya diperbolehkan berdagang pagi hingga sore di Depok sedangkan untuk bermukim tidak diperbolehkan lantaran memiliki kebiasaan kurang baik.

Namun begitu, perkembangan Pondok Cina tidak menjadi Pecinan seperti Glodok, Jakarta Barat. Memasuki abad ke-20, orang Tionghoa di daerah itu berkurang. Sebagian pindah ke Pasar Cisalak, sebagian lain entah ke mana. Penelitian mengenai hal ini masih sangat jarang.
Hingga kini, keturunan para pedagang Tionghoa di Pondok Cina sulit ditemukan. Peninggalan mereka hanyalah rumah tua dan kompleks pemakaman Tionghoa di belakangnya. Tradisi budaya mereka tak mengakar di wilayah itu. Imlek hanya terasa di Margo City dan Depok Town Square (Detos), dan tidak di permukiman warga. Jejak mereka menghilang. Mereka –meminjam istilah sejarawan Belanda Leonard Blusse– seperti "orang-orang tanpa sejarah,". Padahal mereka pernah ikut bersama-sama membangun sejarah Depok.

Sumber: Dari Berbagai Sumber

STASIUN PONDOK CINA

Stasiun Pondok Cina (POC) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Pondok Cina, Beji, Depok. Stasiun yang terletak pada ketinggian +74 m ini berada di Daerah Operasi I Jakarta. Stasiun Pondok Cina merupakan salah satu stasiun yang dekat denganUniversitas Indonesia, dan biasa digunakan oleh mahasiswa UI dan Universitas Gunadarma untuk naik-turun KRL Jabotabek. Terdapat lahan penitipan parkir untuk mobil dan 2 tempat penitipan untuk motor di Stasiun Pondok Cina.



Senin, 28 Oktober 2013

ASAL - USUL PONDOK CINA

Dulu, Pondok Cina hanyalah hamparan perkebunan dan semak-semak belantara yang bernama Kampung Bojong. Awalnya hanya sebagai tempat transit pedagang-pedagang Tionghoa yang hendak berjualan di Depok. Lama kelamaan menjadi pemukiman, yang kini padat sebagai akses utama Depok-Jakarta.

Kota Depok (dulunya kota administratif) dikenal sebagai penyangga ibukota. Para penghuni yang mendiami wilayah Depok sebagian besar berasal dari pindahan orang Jakarta. Tak heran kalau dulu muncul pomeo singkatan Depok : Daerah Elit Pemukiman Orang Kota. Mereka banyak mendiami perumahan nasional (Perumnas), membangun rumah ataupun membuat pemukiman baru.

Sebagai daerah baru, Depok menarik minat pedagang-pedagang Tionghoa untuk berjualan di sana. Namun Cornelis Chastelein pernah membuat peraturan bahwa orang-orang Cina tidak boleh tinggal di kota Depok. Mereka hanya boleh berdagang, tapi tidak boleh tinggal. Ini tentu menyulitkan mereka. Mengingat saat itu perjalanan dari Depok ke Jakarta bisa memakan waktu setengah hari, pedagang-pedagang tersebut membuat tempat transit di luar wilayah Depok, yang bernama Kampung Bojong. Mereka berkumpul dan mendirikan pondok-pondok sederhana di sekitar wilayah tersebut. Dari sini mulai muncul nama Pondok Cina.

Menurut cerita H. Abdul Rojak, sesepuh masyarakat sekitar Pondok Cina, daerah Pondok Cina dulunya bernama Kampung Bojong. “Lama-lama daerah ini disebut Kampung Pondok Cina. Sebutan ini berawal ketika orang-orang keturunan Tionghoa datang untuk berdagang ke pasar Depok. Pedagang-pedagang itu datang menjelang matahari terbenam. Karena sampainya malam hari, mereka istirahat dahulu dengan membuat pondok-pondok sederhana,” ceritanya. Kebetulan, lanjut Rojak, di daerah tersebut ada seorang tuan tanah keturunan Tionghoa. Akhirnya mereka semua di tampung dan dibiarkan mendirikan pondok di sekitar tanah miliknya. Lalu menjelang subuh orang-orang keturunan Tionghoa tersebut bersiap-siap untuk berangkat ke pasar Depok.”

Kampung Bojong berubah nama menjadi kampung Pondok Cina pada tahun 1918. Masyarakat sekitar daerah tersebut selalu menyebut kampung Bojong dengan sebutan Pondok Cina. Lama-kelamaan nama Kampung Bojong hilang dan timbul sebutan Pondok Cina sampai sekarang. Masih menurut cerita, Pondok Cina dulunya hanya berupa hutan karet dan sawah. Yang tinggal di daerah tersebut hanya berjumlah lima kepala keluarga, itu pun semuanya orang keturunan Tionghoa. Selain berdagang ada juga yang bekerja sebagai petani di sawah sendiri. Sebagian lagi bekerja di ladang kebun karet milik tuan tanah orang-orang Belanda. Semakin lama, beberapa kepala keluarga itu pindah ke tempat lain. Tak diketahui pasti apa alasannya. Yang jelas, hanya sisa satu orang keluarga di sana. Hal ini dikatakan oleh Ibu Sri, generasi kelima dari keluarga yang sampai kini masih tinggal di Pondok Cina.

“Tinggal saya sendiri yang masih bertahan disini,” kata ibu Sri lagi. Sekarang daerah Pondok Cina sudah semakin padat. Ditambah lagi dengan berdirinya kampus UI Depok pada pertengahan 80-an, di kawasan ini banyak berdiri rumah kost bagi mahasiswa. Toko-toko pun menjamur di sepanjang jalan Margonda Raya yang melintasi daerah Pondok Cina ini. Bahkan pada jam-jam berangkat atau pulang kerja, jalan Margonda terkesan semrawut. Maklum, karena itu tadi, pegawai maupun karyawan yang tinggal di Depok mau tak mau harus melintas di Pondok Cina.



Jumat, 18 Oktober 2013

Well Come .....

Sengaja blog ini kami buat untuk memenuhi kebutuhan akan informasi yang ada di Kelurahan Pondok Cina  Kecamatan Beji Kota Depok.
Semoga dengan adanya blog ini, aliran informasi akan lebih cepat sampai kepada semua pihak.